Be The Agent Of Changes (In my POV)

Dulu, menurut gue menjadi orang yang biasa aja itu menyenangkan karena ngga perlu melakukan banyak hal yang bikin repot apalagi sampe mengorbankan diri untuk urusan yang bukan urusan sendiri. Gue berprinsip bahwa nggak perlu jadi bagian dari banyak orang atau mengambil tindakan seperti kebanyakan. Dalam sudut pandang gue orang orang yang suka berkumpul-kumpul itu mereka yang ngga punya kerjaan di rumah, atau sok sibuk dan minta diberi pengakuan kalau mereka itu orang yang aktif.

Semua berawal dari gue SMP, dan disaat gue sudah belajar tentang organisasi dan jadi bagian dari kumpulan orang orang di dalamnya. Waktu itu gue masih ingat, bapak gue minta supaya gue gantiin beliau di acara rapat RT karena beliau sakit, gue menolak mentah mentah perintah bapak gue waktu itu. Alasan gue cuma satu : malu. Sampai gue digebuk karena ngga nurutin itu pun gue tetap gak mau berangkat.

"Kamu kalau ngga ikut serta di kegiatan masyarakat kamu ngga akan diakui sama mereka."

Beliau selalu bilang begitu kerap kali gue dinasihatin tentang pentingnya berkumpul dengan orang orang. Apalagi gue yang ikut organisasi di sekolah tapi gak menerapkannya di rumah. Gue bingung tapi juga malu buat mengakuinya. Memang gue yang masih anak anak atau mindset gue itu belum tertata, gue tetap menolak kalau disuruh bapak atau ibu gue buat kumpul kumpul dengan warga, yang umurnya tua lah yang agak sepantaran atau remaja desa.

Sampailah gue di kelas 8, gue terpilih jadi Ketua OSIS.

Ketua OSIS. Keluh gue seketika waktu hari pencoblosan yang hasilnya bikin gue tercengang. Pertama karena yang milih gue banyak, padahal gue ngerasa gak pantes. Kedua, gue bertanya tanya, apa gue bisa? Apa gue mampu?

Dari situ gue mulai belajar banyak, gue yang tadinya emang susah ngomong di depan umum berubah jadi orang yang pedenya tinggi buat ngomong apa aja, gue makin punya integritas dan semangat buat bikin perubahan dalam diri gue dan orang lain. Posisi gue sebagai Ketua membuat gue sadar kalau gue sedang pada posisi yang serius. Gue diperhatikan banyak orang, dicontoh teman teman gue. Tentunya, gue lah yang harus membawa perubahan di organisasi yang gue pimpin.

Perjalanan gue sewaktu jadi Ketua OSIS di SMP memang gak sehebat yang orang bayangkan, gue masih perlu banyak belajar untuk bisa berkembang lebih baik. Tapi pada step inilah siapa gua yang sebenarnya mulai keluar dan membuktikan, tinggal gimana gue mengolahnya.

Tidak disangka sangka juga, di SMA gue pun jadi Ketua OSIS lagi. Gila gila gila.
Gue gak pernah membayangkan gue akan dipercaya sama orang lagi disaat gue sudah gak percaya sama diri gue sendiri.

Di SMA gue merasa tercekik. Ternyata jadi Ketua OSIS di SMP dan SMA itu beda banget. Beda bangetttt.

Gue kaget waktu harus nyusun kegiatan sekolah. Disuruh bikin proposal, anggaran, mengatur anggota sendiri, rapat bareng perwakilan kelas, guru guru, dan bah! Gue kok, bisa, sampe segitunya sih?

Kekagetan gue selanjutnya adalah setelah proses berorganisasi ini, gue dapat banyak masalah. Gue jadi orang yang disorot semua mata, semua orang kayak gak bakal biarin gue berlaku seenaknya. Dari sekian masalah yang sebagian besar disebabkan oleh diri gue sendiri, geu belajar banyak hal. Tentang bagaimana berpikir sebelum bertindak, bagaimana gue menghargai perbedaan, bagaimana gue berproses dan mengambil keputusan. Semua gue dapet dengan tiket menuju kesana melalui berbagai problema yang membanting kepercayaan diri gue.

Yang pengin gue sharing disini sebenarnya, bukan masalah gue tapi esensi dari apa yang gue jalani selama menjadi anak organisasi. Anggap aja tadi gue lagi intro sekalian curhat yhaa xD

Jadi anak organisasi itu capek.
dicaci maki.
banyak fans, tapi banyak haters juga.
banyak kesibukan sampe lupa belajar
banyak masalah
tapi membangun diri.
asik.

- itu kesimpulan gue saat ini.

Gue ngga akan bahas siapa siapa yang pantas disebut orang paling berdedikasi di sebuah tim, karena hakikatnya kerja tim itu saling melengkapi dan mendukung bukan mencari cari kekurangan dan kelebihan agar ada perbedaan paling banyak atau paling sedikit, tetapi makna dari kerja tim itu agar kita saling menopang agar landasannya kuat. Agar kita berdiri tegak.

Dengan ikut organisasi tanpa sadar kita itu sedang belajar banyak. Kita belajar makna kebersamaan, perbedaan, dan kerja keras.

Gue pikir dengan organisasi seseorang bisa jadi agen perubahan untuk dirinya dan juga orang lain. Orang yang ikut organisasi pasti punya daya tarik tersendiri. Mereka punya ide, bakat, atau suatu concern yang berdampak baik. Mereka juga ikon yang bisa dijadikan panutan untuk yang lain.

Gak perlu jadi yang paling hebat agar bisa mempengaruhi orang lain. Cukup dengan ikut organisasi dan jadi bagian dari mereka, dan berkontribusilah sebisanya. Jangan memaksa tapi mau berdedikasi. Jangan ngomong di belakang tapi utarakan pendapat atau kritik. Kita bisa kok jadi agen perubahan.

Kalau bukan lewat organisasi ya bisa lewat platform lain misalnya jadi influencer yang menyebarkan hal hal positif atau jadi konten creator yang bisa kasih impact positif ke semua orang.

Itu sedikit sudut pandang gue tentang menjadi agen perubahan yang bisa kita lakukan kalau kita niat untuk melakukannya dan kita gak setengah setengah buat berdedikasi, entah itu lewat organisasi atau lewat sesuatu yang bisa kita lakukan. Just it.

Prinsip yang selalu gue pegang, gue akan bermanfaat kalau gue bisa jadi bagian dari orang lain. Dengan jadi manusia biasa gue cuma bisa bantu 1 2 orang, tapi dengan ikut organisasi mungkin gue bisa bantu banyak orang dan memberi lebih.

Kata bapak gue, you can if you think that you can. 

Salam,
Fhanius.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Nostalgia Masa Masa SMP

Kembali Ke Titik Awal

Gue Gagal (lagi)